Buku ini membahas hubungan antara ekonomi, sejarah, dan politik, terutama sebagai respons terhadap teori Marx tentang perkembangan sosial-ekonomi. Penulis mengeksplorasi bagaimana faktor ekonomi, sosial, dan perang memengaruhi politik, serta bagaimana ide-ide ini berkembang dalam penelitian akademis dan kebijakan publik.
Buku ini menantang konsep pidana politik yang sangat lumrah ditemukan pada era Orde Baru. Buku ini berargumen bahwa pidana politik harus memerhatikan hak asasi manusia dan tidak membatasi hak-hak politik.
Buku ini membahas hubungan diplomatik antara Indonesia dan Kamboja. Pembahasan terutama mencakup peran Indonesia selama terjadinya Perang Saudara Kamboja, termasuk peran Kontingen Garuda selaku pasukan perdamaian (peacekeeping force) selama perang terjadi.
Buku ini membahas mengenai pemikiran penting Machiavelli. Buku ini berusaha memberikan pemahaman objektif mengenai pemikiran Machiavelli yang seringkali dianggap negatif.
Buku ini membahas pencarian identitas pribadi dan politik di Burma, menyoroti tantangan modernisasi, pengaruh kolonialisme dan nasionalisme, serta dinamika budaya politik dalam transisi menuju negara modern.
Pemerintahan Orde Baru di Indonesia telah berkuasa sejak tahun 1966. Buku ini menguraikan asal-usul dan perkembangan Orde Baru saat ini. yang pertama menganalisis keterampilan kepemimpinan Presiden Soeharto yang luar biasa.
Buku ini berisi salah satu tindakan rahasia AS yang paling penting, dramatis, dan selalu mengejutkan yang muncul dari Perang Dingin.
Buku ini menjabarkan berbagai delik politik yang tersebar di Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan berbagai undang-undang pidana khusus. Buku ini secara khusus melampirkan contoh peraturan yang memuat pasal delik politik, khususnya Undang Nomor 11/PNPS/Tahun 1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi.
Buku ini membahas pembangunan politik di negara-negara berkembang melalui pendekatan budaya politik, dengan analisis dari berbagai ahli tentang modernisasi, sosialisasi politik, dan dinamika historis masing-masing negara.
Kebanyakan orang bergidik dan ngeri dengan sosok berdarah dingin, pembunuh berdarah dingin seperti dijumpai di film, TV atau judul utama koran. Dengan pelanggaran aturan sosial mereka, pembunuh serial yang sadis adalah contoh paling dramatik dari psikopat.