Buku ini memuat fenomena korupsi sebagai penyakit sosial yang telah mengakar sejak lama di masyarakat Indonesia. Melalui cerita fiksi seorang pegawai kecil yang tergoda melakukan korupsi karena tekanan ekonomi, Pramoedya Ananta Toer menggambarkan bagaimana korupsi tumbuh dari keterpaksaan menjadi kebiasaan yang meluas. Buku ini merupakan kritik sosial terhadap budaya korupsi, serta sindiran ter…
Buku ini adalah novel fiksi sejarah yang mengangkat kesadaran nasional, ketidakadilan kolonial, dan perjuangan intelektual Indonesia.
Buku ini merupakan novel sejarah yang menggambarkan kemunduran Nusantara pasca kejayaan maritim Majapahit pada abad ke-16. Melalui tokoh Wiranggaleng, kisah ini menggambarkan perlawanan terhadap kekuasaan asing (Portugis) dan upaya mempertahankan jati diri Nusantara di tengah arus penjajahan dari utara.
Buku ini membahas makna simbolis selendang sebagai atribut perempuan Indonesia—fungsional sekaligus estetis, pelindung sekaligus penghias. Kemudian, "Selendang Pelangi" menjadi metafora bagi kumpulan puisi karya tujuh belas perempuan, yang masing-masing menghadirkan corak dan suara unik, seperti warna-warni pelangi di langit.
Buku ini adalah roman tiga jilid karya Mohammad Takdir Alisjahbana yang mengisahkan percintaan antara Ahmad, seorang pemberontak Indonesia, dan Janet, seorang seniman Prancis, yang berlangsung di berbagai kota Eropa seperti Capri, Napoli, Frankfurt, dan Lindau. Selain kisah cinta, roman ini sarat dengan dialog intelektual mengenai isu-isu besar abad ke-20, seperti fasisme, seks bebas, komunisme…
Buku ini adalah novel roman sosial karya Sutan Takdir Alisjahbana yang mengisahkan konflik batin, cinta, dan pilihan hidup tokoh-tokohnya, terutama Maria, Yusuf, dan Tuti. Dengan latar pemikiran modern, novel ini menekankan pentingnya rasionalitas, kebebasan memilih pasangan, dan emansipasi perempuan dalam menghadapi perubahan zaman.
Buku ini memuat para eks-tahanan politik di pengasingan Digul, Papua Barat, yang menggambarkan perjuangan hidup mereka di tanah buangan. Disunting oleh Pramoedya Ananta Toer, buku ini menjadi dokumen penting sejarah, sastra, dan bahasa Indonesia, serta menyajikan refleksi mendalam tentang makna kemerdekaan.
Buku ini mengisahkan pembunuhan Uskup Agung Thomas Becket. Ditulis untuk Festival Canterbury 1935, drama ini menggabungkan unsur religius dan ritual seperti dalam drama Yunani, menandai kebangkitan puisi dalam teater Inggris modern.
Buku ini membahas novel Botchan karya Natsume Sōseki, yang menggambarkan konflik antara nilai-nilai Jepang lama dan Jepang modern melalui tokoh utama yang jujur, terus terang, dan mewakili semangat zaman baru.