Buku ini membahas tentang upaya kudeta 1965 di Indonesia, yang masih meninggalkan banyak ketidakjelasan. Penulis menyoroti kurangnya penelitian yang cermat tentang peristiwa tersebut meskipun ada banyak dokumen yang dipublikasikan. Buku ini bertujuan untuk memberikan pemahaman lebih baik tentang peristiwa itu, mengingat banyaknya kesalahan interpretasi yang ada dalam berbagai laporan sebelumnya.
Buku ini membahas peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Timor Timur, termasuk perang saudara 1975, pengunduran diri Portugal, proklamasi Republik Demokratik Timor Timur oleh FRETILIN, integrasi dengan Indonesia, dan intervensi militer Indonesia pada Desember 1975.
Buku ini membahas secara mendalam peristiwa politik yang terjadi pada tanggal 15 Januari 1974, yang dikenal dengan insiden "Marari." Buku ini menguraikan latar belakang, fakta-fakta terkait, dan konteks politik yang mengelilingi peristiwa tersebut, serta dampaknya terhadap lanskap politik Indonesia saat itu.
Buku ini membahas upaya penyelesaian masalah Timor Timur melalui dialog yang difasilitasi oleh PBB, dengan fokus pada peran Parlemen Australia.
Buku ini mengkritik "neo-colonialism Indonesia-Jawa" di Sumatra, yang menurut penulis, merusak dan menindas. Luth Ari Linge mengekspos praktik-praktik tersembunyi oleh pemerintahan Indonesia-Jawa dan mengungkapkan keyakinannya bahwa kemerdekaan bagi Sumatra akan segera tercapai, meskipun menghadapi penindasan.
Buku ini membahas situasi kritis di Aceh pada tahun 1999, yang dihantui oleh kekerasan, pengungsian, dan pelanggaran hak asasi manusia akibat konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan militer Indonesia.
Buku ini membahas Tragedi Semanggi 1998, mengungkapkan kejadian kelam dalam sejarah Indonesia dengan data yang terkumpul, meskipun terbatas oleh tenggat waktu. Buku ini bertujuan memberikan gambaran jujur sebagai cermin bagi bangsa, terutama mereka yang tidak peduli dengan tragedi tersebut.
Buku ini mengangkat peristiwa kekerasan yang menimpa jurnalis dan media massa selama periode tersebut. Buku ini mengulas tentang bagaimana kebebasan pers di Indonesia, meskipun penting sebagai alat kontrol terhadap penguasa, juga membawa risiko kekerasan bagi jurnalis yang mengungkapkan ketidakbenaran, termasuk ancaman dan serangan terhadap kantor media seperti Sriwijaya Pos.
Buku ini membahas reaksi dan sikap Susilo Bambang Yudhoyono terhadap Maklumat Presiden 28 Mei 2001, termasuk penerimaan terhadap pencopotannya sebagai Menteri Koordinator Polsoskam. SBY menegaskan bahwa ia tidak merasa kecewa atau menyalahkan siapa pun, memahami situasi politik, dan menjadikan kekuasaan sebagai sarana demokrasi. Buku ini mencatat ucapan-ucapan penting Yudhoyono tentang politik …
Buku ini mengungkap perjuangan diplomatik untuk solusi damai terkait Timor Timur yang berlangsung hampir tiga dekade, terutama antara Portugal dan Indonesia. Ali Alatas, sebagai duta besar dan menteri luar negeri Indonesia, memimpin negosiasi yang penuh intrik, kegagalan, dan keberhasilan. Buku ini memberi wawasan baru, mengungkap dokumen-dokumen yang sebelumnya tidak dipublikasikan, dan memban…