Buku ini adalah sketsa sejarah perjuangan nasional Indonesia antara tahun 1940 hingga awal kemerdekaan 1945. Isinya menggambarkan benih-benih revolusi yang tumbuh di tengah penjajahan, situasi genting di Asia dan dunia menjelang kemerdekaan, serta peristiwa-peristiwa besar yang ikut memengaruhi lahirnya Proklamasi 17 Agustus 1945. Buku ini belum dimaksudkan sebagai sejarah lengkap, tapi sebagai…
Buku ini merupakan refleksi kritis terhadap kondisi politik dan sosial pascareformasi, dengan membandingkannya pada masa revolusi kemerdekaan 1945 dan kudeta Orde Baru 1966. Buku ini menggugat praktik demokrasi yang dinilai menyimpang dari cita-cita awal kemerdekaan dan menyerukan perlunya pembaruan untuk mewujudkan kembali Republik Indonesia yang sejati.
Buku ini menyajikan profil tiga tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2008—Mohammad Natsir, KH. Abdul Halim, dan Bung Tomo—sebagai bentuk penghargaan atas jasa luar biasa mereka bagi bangsa. Buku ini juga menjadi upaya melestarikan semangat kepahlawanan dan mengenang kontribusi mereka dalam menjaga keutuhan NKRI.
Buku ini menawarkan konsep dialog Jakarta–Papua sebagai upaya menyelesaikan konflik Papua secara damai. Meski berasal dari pandangan pribadi penulis, buku ini mengisi kekosongan konsep tertulis dan dapat menjadi dasar awal untuk memulai diskusi lebih luas antara pemerintah dan masyarakat Papua.
Buku ini memuat pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 tentang lahirnya Pancasila, lengkap dengan kata pengantar oleh Dr. Radjiman Wedyodiningrat, yang diterbitkan ulang untuk disebarluaskan kepada masyarakat sebagai bentuk perjuangan dalam menjaga persatuan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
Buku ini berisi refleksi dan pemikiran strategis dari para pakar nasional mengenai peran Lemhannas dalam menjawab tantangan global. Buku ini membahas konsep Wawasan Nusantara, Ketahanan Nasional, serta isu-isu ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan keamanan dalam menghadapi perubahan dunia modern.
Buku ini membahas perjuangan panjang dan kompleks dalam membentuk dan mempertahankan Republik Indonesia, dengan fokus pada dinamika persatuan di tengah perbedaan serta konflik politik pasca-kemerdekaan, termasuk pemberontakan Permesta pada era Demokrasi Liberal hingga Demokrasi Terpimpin.
Buku ini merupakan refleksi pribadi penulis tentang pentingnya memahami sejarah nasional Indonesia sebagai bentuk tanggung jawab moral di usia senja. Melalui tulisan ini, penulis ingin mendorong pembaca untuk belajar dan memahami sejarah sebagai sumber inspirasi, kekuatan, dan ketahanan bangsa.
Buku ini mengisahkan para tokoh pelopor kemerdekaan Indonesia seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir dari sudut pandang pribadi Rosihan Anwar. Ditulis dengan empati, buku ini menampilkan sisi manusiawi dan latar belakang perjuangan tokoh-tokoh tersebut dalam sejarah bangsa.
Buku ini berisi kisah-kisah kecil namun bermakna dalam sejarah Indonesia, termasuk tokoh-tokoh seperti Soe Hok Gie, Tan Malaka, Soedjatmoko, serta peristiwa penting seperti 17 Oktober 1952 dan lahirnya Sastra Angkatan 45. Penulis juga menyelipkan kisah pribadi keluarganya yang berkaitan dengan sejarah bangsa.