Buku ini mengkritik penyimpangan pelaksanaan demokrasi dan UUD 1945 di Indonesia, termasuk pembatasan kebebasan politik dan dominasi penguasa tanpa pedoman pemimpin nasional yang sejati.
Buku ini berisi studi tentang Indonesia kontemporer dengan memberi tekanan pada pemakaian sumber-sumber dan sudut pandang Indonesia.
Buku ini membahas "Konsensus Nasional Orde Baru" yang lahir di tengah perang dingin sebagai kemenangan satu adikuasa atas lainnya, yakni CIA atas KGB. Dengan latar peristiwa tersebut, buku ini juga menyoroti sikap tokoh seperti Jenderal Soewarto, yang anti-komunis namun menolak menjadi alat CIA.
Buku ini berisi rekaman atas peristiwa-peristiwa politik sebelum jatuhnya Orde Baru.
Buku ini membahas fenomena politik "dosomuko," yaitu politik dengan wajah demokratis tetapi sarat tipu daya dan rekayasa. Latar belakangnya adalah krisis ekonomi 1997-1998 yang membawa kepanikan di seluruh lapisan masyarakat, dari rakyat kecil hingga elit, di tengah kejatuhan Rupiah dan melonjaknya harga kebutuhan.
Buku ini berisi analisis penulis tentang peristiwa-peristiwa yang sedang hangat dibacakan orang, dalam bobot intelektualitasnya sebagai seorang pakar hukum.
Buku ini merupakan kesaksian tentang masa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru di Indonesia.
Buku ini menyajikan catatan komprehensif dan otoritatif tentang indonesia sejak tahun 1966, dan masa sebelum orde baru.
Buku ini membahas keberhasilan Orde Baru dalam menciptakan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi melalui pembenahan birokrasi, namun tetap menunjukkan kontradiksi antara dominasi birokrasi dan aspirasi partisipasi rakyat. Dengan pendekatan kultural dan struktural, buku ini mengupas fenomena tersebut secara mendalam.
Buku ini mengabadikan pikiran-pikiran yang berkembang dalam diri HR. Dharsono sekaligus sebagai bukti bahwa berdemokrasi dan berbeda pendapat itu wajar terjadi di masyarakat kita.