Buku ini menyajikan pemikiran-pemikiran AM Saefuddin secara rasional, realistik, dan tajam mengenai upaya menciptakan masyarakat madani, menjadikannya sebagai sumber penting bagi pemahaman terhadap perkembangan bangsa dan negara Indonesia.
Buku ini membahas berbagai peristiwa penting nasional tahun 2002–2004, seperti bom Bali, pembentukan KPK, amandemen UUD 1945, pemilu langsung presiden pertama, serta bencana tsunami, sebagai bagian dari dinamika reformasi dan penegakan hukum di Indonesia.
Buku ini menyoroti perusakan alam dan penanganannya selama 2005–2007, dengan fokus pada kasus lumpur Lapindo, gempa Nias, bom Bali II, serta peristiwa penting seperti penandatanganan damai Aceh, pelaksanaan Pilkada Aceh, dan keterlibatan Indonesia dalam isu lingkungan global seperti Protokol Kyoto.
Buku ini membahas refleksi satu dasawarsa reformasi, menyoroti perubahan sosial-politik Indonesia sejak runtuhnya Orde Baru, termasuk dinamika demokrasi, pemilu, peran mahasiswa, dan transisi kepemimpinan nasional.
Buku ini menyoroti kurangnya perhatian serius pada pendidikan meski sangat penting, serta masalah hukum dan korupsi besar seperti kasus Bank Century dan skandal KPK yang memicu protes publik, menandakan krisis keadilan di Indonesia saat itu.
Buku ini tersedia dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, dengan judul "Ibuisme Negara" dan "State Ibuism". Isinya membahas bagaimana Orde Baru membentuk peran perempuan dalam masyarakat melalui kontrol negara atas keluarga.
Buku ini membahas pembentukan karakter dan nilai-nilai kebangsaan (nasionalisme) dalam kehidupan masyarakat Indonesia, dengan pendekatan naratif dan inspiratif.
Buku ini membahas kebebasan berserikat, partai politik, dan mekanisme pembubaran partai politik, baik secara komparatif di berbagai negara maupun dalam konteks sejarah Indonesia, dari masa kolonial hingga era reformasi. Buku ini juga mengulas peran Mahkamah Konstitusi dalam pembubaran partai politik di Indonesia. Ditulis oleh Ketua MK, buku ini penting bagi kalangan politikus, akademisi, dan pe…
Pascaa reformasi, citra khalayak terhadap golkar tidaklah menguntungkan. sebagian besar publik memberikan citra "negatif" terhadap golkar saat itu.
Buku ini membahas pandangan Sjafruddin Prawiranegara tentang ekonomi Islam, yang menekankan bahwa inti perbedaannya bukan hanya soal riba atau bunga bank, melainkan pada aspek moral dan etika. Ia menyoroti pentingnya kejujuran dalam perdagangan dan mengkritisi praktik yang menipu, meski secara hukum diperbolehkan. Buku ini menjadi refleksi kritis terhadap praktik perbankan syariah masa kini.