Buku ini membahas kehidupan batin dan emosional masyarakat Jepang, bukan kehidupan luarnya. Lewat lima belas esai, penulis mengeksplorasi jiwa, perasaan, semangat, dan makna terdalam budaya Jepang. Istilah kokoro mencerminkan berbagai aspek seperti hati, pikiran, keberanian, dan kasih sayang — inti dari kehidupan dan budaya Jepang.
Buku ini membahas bagaimana kelemahan dan rintangan bisa menjadi kekuatan, menggunakan kisah nyata dan penelitian untuk menantang cara berpikir kita tentang kesuksesan, perjuangan, dan ketidakadilan.
Buku ini membahas pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan pembebasan yang menekankan pentingnya membangkitkan kesadaran kritis kaum tertindas melalui dialog dan refleksi agar mereka mampu memahami dan mengubah realitas penindasan yang dialami. Pendidikan dipandang sebagai alat pembebasan dari belenggu kesadaran yang dibentuk oleh kaum penindas, bukan sekadar transfer pengetahuan.
Buku ini membahas pembentukan karakter dan nilai-nilai kebangsaan (nasionalisme) dalam kehidupan masyarakat Indonesia, dengan pendekatan naratif dan inspiratif.
Buku ini membahas kebebasan berserikat, partai politik, dan mekanisme pembubaran partai politik, baik secara komparatif di berbagai negara maupun dalam konteks sejarah Indonesia, dari masa kolonial hingga era reformasi. Buku ini juga mengulas peran Mahkamah Konstitusi dalam pembubaran partai politik di Indonesia. Ditulis oleh Ketua MK, buku ini penting bagi kalangan politikus, akademisi, dan pe…
Pascaa reformasi, citra khalayak terhadap golkar tidaklah menguntungkan. sebagian besar publik memberikan citra "negatif" terhadap golkar saat itu.
Buku ini memuat pikiran Megawati Soekarnoputri tentang: - Kepentingan Rakyat Banyak - Demokrasi - Persatuan dan Kesatuan - Hak Asasi Manusia - Dwi Fungsi Abri - Kesenjangan Sosial - Pembangunan Indonesia
Buku ini merupakan biografi Sajjid Ahmad Khan, seorang tokoh Islam-Modern dan Pembaharu Sosial.
Buku ini membahas perjuangan melawan penindasan, ketidakadilan, dan kebobrokan, serta mengajak mereka yang pernah mengalami diskriminasi, seperti anak Tapol/Napol, untuk bangkit, hidup bermartabat, dan berkontribusi dalam membangun demokrasi dengan keberanian menyuarakan kebenaran.
Buku ini merupakan catatan pribadi Abdullah Hussain tentang pengalaman dan pengamatannya setelah Proklamasi Kemerdekaan. Ia menggambarkan perubahan besar dalam mentalitas bangsa Indonesia pascakemerdekaan, khususnya di luar Jawa, yang jarang diangkat. Ditulis dengan jujur dan segar, buku ini memadukan peristiwa serius dan lucu, mencerminkan gejolak semangat bangsa yang baru merdeka.