Buku ini membahas potensi Pulau Owi sebagai destinasi wisata sejarah berbasis Perang Dunia II, khususnya peran strategisnya dalam Perang Pasifik, serta mendorong pemangku kepentingan pariwisata untuk mengembangkan dan memasarkan pulau ini sebagai gerbang wisata kawasan Teluk Cenderawasih dan Tanah Papua.
Buku ini membahas sejarah kota Jakarta (dahulu Batavia) dari masa awal berdirinya hingga masa Orde Baru, mencakup periode abad ke-17 sampai 1980-an. Secara garis besar, buku ini menganalisis perkembangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya kota Jakarta, serta bagaimana kota ini berubah dari kota kolonial menjadi ibu kota negara modern.
Buku ini mengisahkan perjalanan penelitian yang dimulai dengan fokus pada hubungan antara pemerintah pusat dan daerah di Indonesia, khususnya di Sulawesi. Penelitian ini kemudian berkembang menjadi studi perbandingan tentang pemberontakan DI/TII Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan dan Permesta. Dengan berbagai tantangan dan keterbatasan informasi, penulis menggali lebih dalam tentang pemberontak…
Buku ini mengungkapkan sifat-sifat sosial dan budaya masyarakat Indonesia pasca-kemerdekaan. Lubis menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia dihadapkan pada tantangan membangun identitas bangsa baru setelah penjajahan, serta mencermati sifat-sifat seperti munafik, feodalisme, dan penghindaran tanggung jawab. Buku ini juga mencatat perubahan sosial dan perjuangan masyarakat untuk melepaskan d…
Buku ini menggambarkan kehidupan Jakarta pada tahun 1950-an melalui kenangan pribadi Firman Lubis, seorang dokter Betawi. Dengan pendekatan medical history, ia menulis sejarah sosial ibu kota pasca-kemerdekaan secara hidup, penuh warna, dan ringan, lengkap dengan detail budaya, kehidupan remaja, hingga dinamika masyarakat multietnis saat itu.
Buku ini membahas tentang pendudukan Indonesia di Timor Timur serta dampak-dampak serius yang ditimbulkannya, termasuk kekerasan sistematis hingga genosida.
Buku ini mengungkap hubungan erat antara Presiden Soeharto dan benda-benda pusaka yang dikoleksinya, serta bagaimana ia memaknai pusaka sebagai simbol kekuasaan, kekuatan batin, dan kehormatan diri. Sebagai tokoh Jawa, Soeharto tidak hanya melihat pusaka sebagai karya seni atau warisan budaya, tetapi sebagai peneguh eksistensi dalam membangun dan menjaga kekuasaan. Disajikan dengan detail, buku…
Buku ini membahas perjuangan kemerdekaan Timor Timur antara tahun 1975–1983.
Buku ini berasal dari pidato atau ceramah yang ia sampaikan pada 6 April di Teater Arena Taman Ismail Marzuki. Pidato tersebut kemudian diterbitkan dalam bentuk buku kecil sebagai pertanggungjawaban pemikiran beliau mengenai karakter dan watak manusia Indonesia dari sudut pandang budaya dan sejarah bangsa.