Buku ini menghadirkan dialog intelektual antara pelaku sejarah yang pernah bertemu Tan Malaka dan generasi muda yang membahas pemikirannya.
Buku ini menceritakan riwayat keberanian sejati anak bangsa ini yang ikut sebagai pendiri Republik, penunjuk jalan dan arah kemerdekaan 100%, membela proklamasi kemerdekaan, diakui sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan serta disebut Bapak Republik.
Buku ini membahas tentang Tan Malaka sebagai seorang intelektual dan pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan dan peradaban manusia. Keunggulan pribadinya terlihat dalam pemikirannya yang mendalam, terutama pada karyanya "Madilog." Tan Malaka bukan hanya seorang pahlawan, tetapi juga seorang pemikir besar yang berjuang untuk nilai-nilai moral dan sosial, serta membela hak asasi manusia.
Buku ini mencoba menguak kaitan antara unsur-unsur egaliter Minangkabau dengan gerakan kiri yang dilahirkan dari tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau-baik di Indonesia maupun di luar Indonesia (Semenanjung Malaya).
Buku ini berupaya mengungkap berbagai sisi manusiawi dari Hariman- yang tampak luarnya dikenal sebagai tokoh yang garang belaka kepada kekuasaan.
Buku ini adalah bagian ketiga dari memoar Siauw Giok Tjhan, yang mencatat kisah hidup dan pandangan Siauw Giok Tjhan dalam konteks sejarah Indonesia.
Buku ini berisi bukti yang meyakinakn bahwa orang kelima tidak lain adalah Sir Roger Hollis, yang merupakan kepala M15 itu sendiri.
Buku ini mencatat pandangan Mr. Sjafruddin Prawiranegara tentang perjuangan pascakemerdekaan, termasuk kekecewaan terhadap penjajahan baru oleh bangsa sendiri, sebagaimana dialami oleh pejuang seperti Mr. H. St. Moh. Rasjid.
Buku ini berisi perjalanan Panda Nababan yang merupakan seorang wartawan yang kaya warna. Pengalamannya selama 30 tahun sebagai wartawan merupakan kekayaan yang dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama generasi-generasi muda yang menekuni profesi sebagai jurnalis.
Buku ini mengulas biografi Mochtar Lubis, seorang jurnalis dan pengarang yang kritis terhadap penyalahgunaan kekuasaan di era Sukarno dan Suharto. Buku ini mengeksplorasi peranannya dalam jurnalisme, politik, dan budaya Indonesia, serta menggambarkan sejarah media dan sastra pada abad ke-20.