Buku ini membahas kembalinya Rendra tampil di publik pada 1985 setelah 7 tahun dilarang, serta dampaknya terhadap Bengkel Teater yang sempat terpecah dan kehilangan fasilitas. Teks ini juga menyoroti minimnya infrastruktur teater di Indonesia, dibandingkan dengan dunia musik yang lebih mapan dan memiliki ekosistem yang lengkap.